Jember, Pak JITU.com – Songsong Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025 pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Bangsalsari gelar Munajat Santri Untuk Negeri di halaman Masjid Annur, Selasa malam (21/10/2025).
Acara yang diselenggarakan serentak se Indonesia itu diikuti Ranting NU dan Fatayat NU beserta Banom NU se MWC NU Bangsalsari, Pemerintah Desa Bangsalsari dan Muspika Bangsalsari.
Camat Bangsalsari Bambang Erwin Setyono SH. dalam sambutannya mengajak MWC NU Bangsalsari untuk membangun kerjasama yang baik dengan Muspika Bangsalsari.
“Sesuai pesan Bupati Jember kepada saya,” ujarnya.
Masih di kesempatan yang sama Ketua MWC NU Bangsalsari H. Abdullah Aang menyambut baik ajakan tersebut.
“Kami MWC NU Bangsalsari siap bekerjasama dengan Muspika Bangsalsari, monggo kalau ada kegiatan yang bisa dikerjakan bareng-bareng kami selalu siap bekerjasama untuk mengembangkan ideologi ke NU an khusunya di wilayah Kecamatan Bangsalsari,” ucapnya.
Sementara itu Wakil Ketua PCNU Jember KH. Badrus Sodiq dalam orasi kebangsaannya mengajak agar mempertahankan tradisi yang sudah ada serta tetap menjaga keseimbangan alam dengan tidak menebang pepohonan.
Sejarah Penetapan Hari Santri Nasional dan Perkembangannya
HSN ditetapkan oleh Presiden RI Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015.
Tanggal 22 Oktober dipilih sebagai bentuk penghormatan atas lahirnya Resolusi Jihad NU pada tanggal tersebut. Dimana pada tanggal tersebut seruan jihad yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pada 22 Oktober 1945 di Surabaya.
Resolusi ini muncul karena situasi genting setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan (17 Agustus 1945), saat pasukan Sekutu dan Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia.
Dalam resolusi tersebut, KH. Hasyim Asy’ari menyerukan bahwa: “Berperang melawan penjajah yang ingin kembali berkuasa di Indonesia hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap individu Muslim).”
Seruan itu kemudian membakar semangat santri, kiai, dan masyarakat untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan. Sehingga melahirkan Pertempuran Surabaya, yang menjadi salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah Indonesia.
Dalam perkembangannya hari santri diperingati dengan beragam kegiatan Kirab dan apel santri, Lomba-lomba keislaman dan kebangsaan, Pembacaan shalawat dan doa bersama, Refleksi sejarah Resolusi Jihad, dan puncaknya upacara bendera di pesantren-pesantren dan instansi pemerintah.
Hari Santri Nasional bukan hanya peringatan seremonial, tetapi pengakuan negara atas kontribusi santri dan ulama dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semangat “Jihad Santri untuk NKRI” ini menjadi roh perjuangan yang terus relevan hingga kini. (Yunus)
[fb_button]