Jember, Pak JITU.com – Warga Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, mempertanyakan efektivitas anggaran dalam kegiatan “Guse Menyapa” yang digelar pada Sabtu, 6 Desember 2025.
Sejumlah Kelompok Tani (Poktan) menganggap kegiatan tersebut belum menjawab persoalan mendesak di lapangan, terutama terkait kelangkaan dan keterlambatan pupuk bersubsidi.
Kegiatan Guse Menyapa dijelaskan oleh Bambang Heri, dari Tim Pengarah Percepatan Pembangunan Daerah (TP3D). Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk mendengarkan keluhan petani, terutama pada tataran teknis.
“Apa saja yang selama ini masih menjadi kendala, hambatan, serta kekurangan yang nantinya kami serap, lalu kami tindaklanjuti oleh lintas UPTD terkait,” ungkap Bambang.
Namun, dalam sesi diskusi, salah satu petani padi, Mukhtar, warga Dusun Jereng, Gugut, Rambipuji, secara langsung menanyakan masalah teknis yang mereka hadapi.
“Bagaimana mengurangi tingkat keasaman tanah? Sebab, jika terus memakai urea, panen yang biasanya 1 kuintal bisa turun menjadi setengah kuintal pada panen berikutnya,” kata Mukhtar.
Mukhtar menambahkan bahwa saat ini petani hanya menerima jatah pupuk bersubsidi sebanyak 2,5 kuintal per hektar, padahal biasanya mereka memupuk hingga 5 kuintal per hektar.
“Dulu petani memupuk 5 kuintal per hektar, sekarang dikurangi jadi 2,5 kuintal, dan itu pun hanya urea saja,” jelasnya.
Ia mengeluhkan bahwa minimnya jenis pupuk yang disubsidi telah menyebabkan penurunan produksi padi di Jember. Mukhtar meminta Dinas terkait agar subsidi tidak hanya berfokus pada Urea.
“Setidaknya, meskipun kami hanya mendapat 2,5 kuintal Urea, kami harap dapat pupuk jenis lainnya yang dapat membantu kami. Kan tidak perlu repot mengubah pupuk hanya dari satu jenis saja?” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan itu, Bambang Heri menjelaskan bahwa penggunaan Pupuk Urea yang berlebihan dan berkepanjangan memang berdampak pada penurunan pH (tingkat keasaman) tanah.
“Jadi, kalau memang salah satu program pemerintah untuk menurunkan nitrogen itu, salah satunya adalah untuk menurunkan keasaman tanah,” jelas Bambang.
Bambang menambahkan perlunya petani memberikan perlakuan tambahan (treatment) pada tanah, seperti penggunaan kapur pertanian dan kompos, untuk meningkatkan pH tanah.
“Urea dikurangi belum tentu keasaman berkurang, karena tanah sudah terlanjur asam. Maka dari itu, kita pernah membantu memberikan bantuan alat ukur pH meter sehingga petani dapat mengukur keasaman tanah,” ungkapnya.
Di sisi lain, Bambang menyinggung perihal rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) Poktan di Jember. Ia menyebut hal ini menjadi tugas bagi PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) dan Dinas terkait untuk memberikan edukasi dan sosialisasi kepada Poktan.
“Jumlah petani yang masuk kategori utama itu masih 100 dari 1.700 petani, jadi tidak sampai 10%,” ujarnya.
Dalam sesi wawancara, Bambang juga menyatakan bahwa Poktan dapat mengajukan bantuan kepada Dinas. “Usulkan saja berapa kebutuhan Poktan, misal [butuh] 50, maka tulis saja. Nanti kita akan sampaikan ketika RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok),” tutupnya. (Roith Husein)
[fb_button]