Jember, Pak JITU.com – Imam Sadzili, suami pasien yang sebelumnya mengeluhkan pelayanan RSU Kaliwates Jember, mengaku sempat didatangi beberapa orang yang diduga terkait pihak rumah sakit saat dirinya hendak pulang dari RSD dr. Soebandi Patrang.
Peristiwa itu terjadi ketika Imam dan istrinya akan meninggalkan rumah sakit dan hendak menaiki kendaraan yang dipesan melalui aplikasi ojek online.
“Istri saya sudah masuk mobil di pintu Gerbang Rumah Sakit Soebandi, lalu ada yang menghampiri dan mengajak makan sambil ngobrol. Saya bilang sudah makan dan sudah terlanjur pesan Grab. Mereka bilang nanti ongkos Grab diganti, tapi istri saya tidak mau. Dia ingin cepat sampai rumah dan istirahat,” ujar Imam saat ditemui di kediamannya, Rabu pagi (21/1/2026).
Saat ditanya langkah lanjutan atas peristiwa yang dialaminya, Imam mengaku saat ini masih fokus pada pemulihan kondisi istrinya.
“Saya sekarang fokus penyembuhan istri. Soal kerugian yang saya alami, termasuk ancaman diberhentikan dari pekerjaan, masih akan saya koordinasikan dengan keluarga. Apalagi masalah ini sudah mendapat perhatian dari Bupati Jember, Gus Fawait,” katanya.
Sementara itu, Direktur RSU Kaliwates Jember, dr. Martha Nurani Putri, belum memberikan keterangan saat ditemui media sesaat setelah mengunjungi rumah Imam di Wilayah Dusun Kalisatan, Desa/Kecamatan Bangsalsari, Jember. Melalui seorang pria bernama Huda yang mengaku sebagai Humas RSU Kaliwates, disampaikan bahwa pihak rumah sakit akan memberikan penjelasan melalui konferensi pers bersama sejumlah wartawan.
Namun, hingga keesokan harinya belum ada pemberitahuan lanjutan. Saat dikonfirmasi kembali, Huda menyebut konferensi pers telah dilakukan.
“Tadi sudah ketemuan bersama teman-teman,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Sedang Imam saat dikonfirmasi atas kunjungan dari jajaran direksi RSU Kaliwates ke rumahnya. menyebutkan, kedatangan tersebut untuk menyampaikan permohonan maaf serta meminta masukan.
Di sisi lain, Kepala Bagian SDM Umum dan Komunikasi BPJS Kesehatan Cabang Jember, Fuad Manar, mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan persoalan tersebut sebelum melakukan klarifikasi kepada kedua belah pihak.
“Kami telusuri dulu kronologisnya seperti apa,” kata Fuad.
Ia menambahkan, BPJS Kesehatan akan memberikan sanksi apabila ditemukan adanya pelanggaran prosedur dalam penanganan pasien.
“Namun yang perlu diperjelas dulu, status kepesertaan Bapak Imam Sadzili saat masuk ke RS Kaliwates ini bagaimana,” ujarnya.
Kronologi Kejadian
Keluhan Imam Sadzili pertama kali mencuat pada Senin, 19 Januari 2026, melalui unggahan video di akun Facebook pribadinya. Dalam video tersebut, ia menyampaikan kekecewaan karena merasa istrinya ‘dipingpong’ oleh pihak RSU Kaliwates saat hendak berobat akibat mengalami pendarahan.
Imam menjelaskan, istrinya awalnya dirujuk ke RSU Kaliwates oleh sebuah klinik di wilayah Kecamatan Bangsalsari. Namun setibanya di rumah sakit, menurutnya sang istri hanya mendapatkan pemeriksaan dasar lalu diminta pulang.
“Kita disuruh pulang, tidak dikasih obat, tidak diperiksa lebih lanjut. Kata dokter piket waktu itu, kalau mau dirawat inap harus bawa surat rujukan rawat inap. Saya tidak paham soal begitu,” ujar Imam dengan nada kesal dalam video tersebut.
Ia menambahkan, saat itu istrinya mengalami pendarahan cukup banyak. Sepulang dari RSU Kaliwates, Imam membawa istrinya ke Puskesmas Bangsalsari untuk mendapatkan penanganan. Di sana istrinya sempat dirawat, namun tetap disarankan kembali ke RSU Kaliwates sesuai prosedur rujukan.
Imam mengaku kekecewaannya berlanjut saat kembali ke RSU Kaliwates pada Senin (19/1/2026). Ia menyebut istrinya kembali tidak mendapatkan perawatan dan diminta datang lagi pada Rabu.
“Sampai di sana saya ditolak lagi, disuruh datang hari Rabu. Katanya tidak ada kondisi emergensi. Padahal sejak Sabtu istri saya sudah pendarahan,” tuturnya.
Ia juga menyinggung status kepesertaannya sebagai peserta BPJS Kesehatan mandiri yang iurannya dibayar rutin setiap bulan melalui pemotongan gaji.
“Saya pakai BPJS yang berbayar, gaji saya dipotong tiap bulan. Kalau minta diperiksa hari itu juga malah diminta bayar,” ucapnya.
Video keluhan tersebut kemudian viral dan mendapat perhatian Bupati Jember, Muhammad Fawait. Pada hari yang sama, istri Imam dievakuasi ke Puskesmas Bangsalsari untuk mendapatkan perawatan. Keesokan harinya, Selasa (20/1/2026), pasien dijemput tim kanal Wadul Guse untuk mendapatkan perawatan intensif di RSD dr. Soebandi Jember.
Melalui tim kanal pengaduan Wadul Gus’e, Imam juga sempat berkomunikasi langsung dengan Bupati Jember dan menerima arahan terkait penanganan kasus yang dialaminya. (Roith Husein/Yunus)