Jember, Pak JITU.com – Anggota Komisi D DPRD Jember dari Fraksi Partai Gerindra, Alfian Andri Wijaya, belum dapat menyimpulkan dugaan “pingpong” pasien pendarahan di RSU Kaliwates yang viral sejak 19 Januari 2026.
Alfian mengaku belum memperoleh keterangan langsung dari pihak pasien maupun keluarganya, sehingga belum bisa melakukan klarifikasi menyeluruh.
“Saya sebenarnya waktu itu sudah dikabari oleh PAC Gerindra Bangsalsari. Saya juga sempat meminta yang bersangkutan mengonfirmasi apakah perlu bantuan untuk menyampaikan komplain melalui BPJS Kesehatan. Namun yang bersangkutan tidak berkenan, sehingga saya juga tidak bisa mengklarifikasi,” ujar Alfian, Sabtu (25/1/2026).
Menurutnya, penolakan tersebut membuat dirinya tidak memiliki dasar informasi yang cukup untuk menindaklanjuti persoalan, termasuk melakukan klarifikasi ke pihak RSU Kaliwates.
“Karena duduk perkaranya saya tidak tahu persis,” imbuhnya.
Meski begitu, Alfian menegaskan bahwa dalam kondisi darurat, rumah sakit pada prinsipnya tidak boleh menolak pasien. Namun, ia juga menekankan bahwa penentuan kondisi darurat atau tidak merupakan kewenangan tenaga medis.
“Tapi yang jelas, dalam hal darurat seharusnya rumah sakit tidak boleh menolak pasien. Namun yang perlu digarisbawahi, yang bisa menentukan kondisi darurat atau bukan adalah pihak rumah sakit atau tenaga ahli di bidangnya,” jelasnya.
Sebagai anggota Komisi D yang menjadi mitra kerja Dinas Kesehatan dan Dinas Tenaga Kerja, Alfian menyatakan tetap membuka ruang pengaduan bagi pasien maupun keluarga yang merasa dirugikan. Terlebih, dari video yang beredar, suami pasien menyebut dirinya sebagai peserta BPJS Kesehatan mandiri yang iurannya dipotong rutin dari gaji.
“Kami sebagai wakil masyarakat tetap membuka diri apabila pasien merasa dirugikan dan membutuhkan bantuan,” tutupnya.
Sebelumnya, jajaran direksi RSU Kaliwates diketahui telah mendatangi kediaman pasien untuk menyampaikan permintaan maaf sekaligus meminta masukan atas pelayanan yang diterima (21/1/26).
Imam Sadzili, suami pasien, kepada Pak JITU.com menyebutkan pihak rumah sakit juga sempat menawarkan makan serta penggantian ongkos Grab yang sudah terlanjur dipesan saat hendak pulang usai dirawat di RSD dr. Soebandi Jember (21/1/26). Namun ia menolak karena istrinya ingin segera sampai rumah dan istirahat.
Kejadian Bermula dari Unggahan Video
Keluhan Imam Sadzili pertama kali mencuat pada Senin, 19 Januari 2026, melalui video yang diunggah di akun Facebook pribadinya. Dalam video itu, Imam menyampaikan kekecewaannya karena merasa sang istri ‘dipingpong’ oleh RSU Kaliwates saat hendak berobat akibat mengalami pendarahan.
Ia menjelaskan, istrinya awalnya dirujuk ke RSU Kaliwates oleh sebuah klinik di Kecamatan Bangsalsari. Namun setibanya di rumah sakit, menurutnya sang istri hanya mendapatkan pemeriksaan dasar, lalu diminta pulang dan disarankan kembali lagi pada Senin (19/1/2026). Jika ingin dirawat inap saat itu, Imam mengaku diminta membawa surat rujukan rawat inap.
Karena kondisi istrinya saat itu masih mengalami pendarahan cukup banyak, Imam tidak langsung pulang. Ia justru membawa istrinya ke Puskesmas Bangsalsari untuk mendapatkan penanganan. Di sana, istrinya sempat dirawat, namun tetap disarankan kembali ke RSU Kaliwates sesuai prosedur rujukan yang telah diterbitkan.
Imam mengaku kekecewaannya berlanjut saat kembali ke RSU Kaliwates pada Senin (19/1/2026). Ia menyebut istrinya kembali tidak mendapatkan perawatan dan diminta datang lagi pada Rabu (21/1/2026). Bahkan, menurutnya, jika ingin dilakukan tindakan saat itu juga, ia diminta mendaftar sebagai pasien umum.
Beruntung, video keluhan tersebut viral dan mendapat perhatian Bupati Jember, Muhammad Fawait. Pada hari yang sama, istri Imam dievakuasi ke Puskesmas Bangsalsari untuk penanganan awal. Keesokan harinya, Selasa (20/1/2026), pasien kemudian dijemput tim kanal pengaduan Wadul Gus’e untuk mendapatkan perawatan intensif di RSD dr. Soebandi Jember.
Melalui kanal pengaduan tersebut, Imam juga sempat berkomunikasi langsung dengan Bupati Jember dan menerima arahan terkait penanganan kasus yang dialaminya.