JEMBER, Pak JITU.com – Nama Totok Sumianta, SH mulai menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember. Mantan wartawan Jawa Pos Radar Jember tersebut resmi mendaftarkan diri sebagai calon anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Karangbayat pada Senin (15/6/2026).
Langkah Totok maju dalam kontestasi BPD menarik perhatian berbagai kalangan. Pasalnya, pria yang akrab disapa Cak Totok itu memiliki latar belakang yang cukup beragam, mulai dari dunia jurnalistik hingga aktivitas pemberdayaan masyarakat di sektor pertanian.
Selama berkarier sebagai wartawan Radar Jember, Totok dikenal banyak meliput berbagai bidang, mulai pemerintahan, politik, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum dan kriminal, hingga sosial budaya. Pengalaman tersebut memberinya wawasan yang luas mengenai persoalan masyarakat dan tata kelola pemerintahan.
Namun, beberapa tahun terakhir Totok lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan pedesaan. Ia aktif menekuni sektor pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan organik, hingga pengembangan tanaman herbal kesehatan. Kedekatannya dengan para petani membuat dirinya semakin memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat desa.
“Alhamdulillah, saya bisa berkomunikasi dengan warga dari berbagai latar belakang karena hampir setiap hari berada di sawah. Di situlah banyak hal yang disampaikan warga kepada saya,” ujar Totok.
Menurutnya, saat berada di lahan pertanian tidak ada lagi sekat antara dirinya dengan masyarakat. Mereka sama-sama petani yang berdiskusi mengenai berbagai persoalan sehari-hari.
“Kalau di sawah itu suasananya cair. Kami bisa berbincang tentang apa saja, mulai dari hama tanaman, benih, pengairan, biaya produksi pertanian, hingga program-program pemerintah yang berkaitan dengan petani,” katanya.
Dari berbagai obrolan tersebut, Totok mengaku sering menerima keluhan dan aspirasi warga. Salah satu yang paling diingatnya adalah saat sejumlah peternak mengeluhkan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi mereka.
“Waktu itu ada petani yang bercerita sapinya sakit. Jika ingin mendapatkan suntikan dari dokter hewan, mereka harus mengeluarkan biaya sekitar Rp100 ribu sekali tindakan,” ungkapnya.
Mendengar keluhan tersebut, Totok kemudian berinisiatif berkomunikasi dengan instansi terkait. Upaya itu mendapat respons positif dari pemerintah sehingga petugas turun langsung ke lapangan untuk menangani ternak yang terjangkit PMK.
“Alhamdulillah, setelah saya sampaikan kepada pihak terkait, petugas datang ke lokasi dan sapi-sapi yang sakit mendapatkan penanganan tanpa biaya. Warga tentu merasa sangat terbantu,” tuturnya.
Pengalaman itulah yang membuat sebagian warga menilai Totok memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Berbagai masukan, dukungan, dan dorongan dari warga, tokoh masyarakat, hingga sejumlah perangkat desa akhirnya menguatkan niatnya untuk ikut serta dalam pemilihan anggota BPD.
Bagi Totok, BPD merupakan wadah strategis untuk menyalurkan aspirasi masyarakat sekaligus mengawal pembangunan desa agar berjalan sesuai kebutuhan warga.
“Jika diberi amanah, saya ingin menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah desa. Aspirasi warga harus didengar dan diperjuangkan demi kemajuan Desa Karangbayat,” tegasnya.
Dengan bekal pengalaman jurnalistik, jaringan yang luas, serta kedekatannya dengan masyarakat akar rumput, Totok Sumianta kini siap mengabdikan diri melalui jalur baru. Kehadirannya sebagai calon anggota BPD Karangbayat diharapkan dapat membawa warna dan semangat baru dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat desa.























